Menyoal Anggota Kehormatan KAHMI, Modal Sosial yang Terlupakan Tim Redaksi, 11 September 202511 September 2025 KAHMISULSEL.OR.ID – Sejak awal berdirinya, KAHMI telah menjadi rumah besar alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Keunikan KAHMI karena tidak ada sistem rekrutmen anggota. Keanggotaan KAHMI otomatis bagi setiap alumni HMI. Dengan jaringan luas yang mencakup hampir semua sektor kehidupan, KAHMI memiliki potensi besar sebagai kekuatan moral, intelektual, sekaligus sosial-politik bangsa. Salah satu instrumen penting dalam struktur keanggotaan KAHMI adalah keberadaan anggota kehormatan, yakni tokoh yang dinilai berjasa atau memiliki kontribusi bagi pengembangan KAHMI, meskipun bukan kader HMI secara formal. Namun, dalam praktiknya, kehadiran anggota kehormatan sering kali hanya berhenti pada seremoni penganugerahan. Padahal, jika potensi mereka dapat dikelola secara sistematis, KAHMI bisa memiliki tambahan energi besar dalam memperkuat jejaring dan memperluas pengaruh. Modal Sosial yang Terabaikan Menurut Anggaran Rumah Tangga (ART) KAHMI, anggota kehormatan adalah individu yang tidak memenuhi syarat sebagai anggota biasa tetapi dianggap berjasa dalam pengembangan KAHMI. Status sebagai anggota kehormatan telah diberikan kepada puluhan atau mungkin ratusan tokoh nasional maupun daerah, mulai dari kepala daerah, politisi, akademisi, hingga tokoh masyarakat. BACA: Silaturahmi Regional KAHMI, Momentum Kebangkitan dan KolaborasiMasalahnya, hingga kini tidak ada data terpusat mengenai siapa saja yang telah menjadi anggota kehormatan sejak pertama kali status ini diberikan. Akibatnya, potensi besar yang mereka miliki tidak pernah benar-benar dikonsolidasikan. Lebih jauh, banyak dari mereka bahkan tidak lagi terhubung dengan KAHMI setelah penganugerahan berlangsung. 3 Masalah Utama Sekurang-kurangnya ada 3 masalah utama mengapa hal ini terjadi, antara lain: Pertama, keterputusan data Majelis Wilayah atau Majelis Daerah sering menganugerahkan status kehormatan tanpa ada mekanisme pelaporan dan tabulasi ke Majelis Nasional. Hal ini membuat KAHMI sebagai organisasi tidak memiliki arsip historis yang rapi. Kedua, ketiadaan mekanisme pelibatan Tidak ada forum atau wadah yang secara khusus dirancang untuk mengintegrasikan anggota kehormatan dalam program KAHMI. Akibatnya, kontribusi mereka berhenti pada tataran simbolik. Ketiga, kurangnya visi strategis Anggota kehormatan mestinya diposisikan sebagai bagian dari advisory network KAHMI—jejaring penasihat yang bisa membantu organisasi mengakses sumber daya, membangun relasi lintas sektor, dan memperkuat advokasi kebijakan publik. Namun, hingga kini, orientasi semacam itu belum menjadi prioritas. BACA: Mengurai Tantangan Dakwah di Era Transisi (Refleksi Menyambut 1 Muharram 1446 H)4 Rekomendasi Strategis Untuk memperbaiki hal ini, maka kedepan, KAHMI perlu melakukan beberapa langkah korektif, seperti: 1. Membangun Pusat Data Nasional Anggota Kehormatan Majelis Nasional harus menginisiasi sistem pendataan terintegrasi yang mencatat profil lengkap anggota kehormatan, tahun pengangkatan, serta kontribusinya. Data ini bukan hanya arsip, melainkan juga basis jejaring strategis. (Sebenarnya bukan hanya anggota kehormatan, KAHMI juga sangat bermasalah dengan data anggota biasa sekalipun). 2. Membentuk Forum Anggota Kehormatan Forum Anggota Kehormatan KAHMI bisa digelar secara berkala, baik di tingkat nasional maupun wilayah, sebagai ruang pertukaran gagasan dan penguatan peran. Dengan begitu, anggota kehormatan tidak lagi sekadar simbol, tetapi aktor yang aktif mendukung program KAHMI. 3. Menyusun Skema Keterlibatan Nyata Para anggota kehormatan sebaiknya dikondisikan untuk terlibat nyata dalam aktifitas KAHMI, misalnya melalui program mentorship, dukungan beasiswa, kolaborasi usaha, atau advokasi kebijakan daerah dan nasional. Dengan keterlibatan nyata, hubungan KAHMI dengan anggota kehormatan akan menjadi lebih substantif. 4. Transparansi dan Publikasi Basis data dan aktivitas anggota kehormatan KAHMI dapat dipublikasikan secara terbuka di website resmi KAHMI. Ini bukan hanya untuk transparansi, tetapi juga menjadi etalase kekuatan jejaring KAHMI kepada publik. BACA: Menyoal Fenomena Klaim Identitas: Katanya Sih Kader HMIPenutup Anggota kehormatan KAHMI adalah kapital sosial strategis yang selama ini terabaikan. Padahal mereka bisa menjadi jembatan bagi KAHMI untuk memperluas pengaruh di luar lingkaran alumni HMI. Sudah saatnya KAHMI memperbaiki manajemen keanggotaan ini secara serius—bukan hanya demi menjaga marwah organisasi, tetapi juga untuk memaksimalkan kontribusi bagi umat, bangsa, dan negara. Jika konsolidasi ini dilakukan, maka anggota kehormatan KAHMI tidak lagi sekadar gelar seremoni, melainkan pilar penguat jejaring strategis KAHMI di masa depan. (*) __________ Oleh: Asri Tadda Direktur Lembaga Penerbitan dan Media Digital (LPMD) KAHMI Sulsel Jangan Lewatkan:Refleksi Filosofis Qurban: Menjalin Kebersamaan dan Menguatkan KetakwaanSpiritualitas Haji: Membangun Kesabaran dan Solidaritas SosialAksi Massa dan Alarm Kepemimpinan: Membaca Kejanggalan BernegaraPrasangka Buruk: Perusak Hubungan dan Harmonisasi