Sulaiman dan Surat Saktinya kepada Ratu Balqis Tim Redaksi, 29 November 202529 November 2025 Suatu Opini Akademik tentang Diplomasi Profetik dan Transformasi KekuasaanOleh: Baharuddin Hafid (Pengurus MW KAHMI Sulsel/Dosen Tetap Universitas Megarezky Makassar)PendahuluanKisah Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis dalam Surah an-Naml (ayat 15–44) bukan sekadar narasi religius yang memperlihatkan mukjizat seorang nabi.Kisah itu merupakan konstruksi peradaban: ia berbicara tentang diplomasi, kepemimpinan, otoritas, tata kelola politik, hingga etika kekuasaan dalam konteks yang melampaui zamannya.Surat Nabi Sulaiman kepada Balqis—yang kerap disebut sebagai “surat sakti”—bukanlah sakti dalam pengertian magis, tetapi sakti karena daya transformasinya yang mengubah arah politik sebuah kerajaan besar melalui pesan singkat yang sangat strategis.Opini ini berargumen bahwa surat Sulaiman adalah salah satu bentuk diplomasi profetik yang memadukan teologi, rasionalitas politik, dan manajemen kekuasaan yang beretika.Ia menunjukkan bagaimana otoritas ilahiah dapat berfungsi sebagai pemantik perubahan struktural dalam sebuah kerajaan yang sudah mapan namun masih terbelenggu oleh pola religius dan politik yang bertentangan dengan nilai tauhid.1. Konteks Politik: Dua Kerajaan, Dua Paradigma KekuasaanKisah ini mempertemukan dua model kekuasaan.1.1. Kerajaan Sulaiman: Teo-Lokrasi Berbasis WahyuSulaiman memimpin kerajaan yang unik: ia berkuasa atas manusia, hewan, bahkan makhluk non-fisik seperti jin. Namun struktur kekuasaannya tidak absolut, melainkan bersandar pada wahyu. Al-Qur’an menyebutkan:“Dan Sulaiman mewarisi Dawud…” (QS. an-Naml: 16),yang menunjukkan pewarisan tidak hanya kekuasaan, tetapi juga hikmah, ilmu, dan amanah spiritual.1.2. Kerajaan Balqis: Monarki Sekuler-Religius Berbasis TradisiKerajaan Saba’ yang dipimpin Balqis adalah monarki kuat, kaya, dan berbudaya tinggi.BACA: Menyoal Fenomena Klaim Identitas: Katanya Sih Kader HMINamun kekuasaannya bersandar pada penyembahan matahari—praktik religius yang dipertahankan secara turun-temurun (QS. an-Naml: 24).Kekuasaan Balqis dipengaruhi oleh struktur elite yang bersifat oligarkis, dibuktikan melalui dialognya dengan majelis penasihat.Pertemuan dua kerajaan ini bukan hanya benturan dua penguasa, tetapi dua paradigma kekuasaan: wahyu dan tradisi manusia.2. Surat Sulaiman: Diplomasi Profetik sebagai Instrumen Transformasi2.1. Isi Surat yang Singkat namun SubstantifIsi surat itu disebutkan dalam ayat 30–31:“Sesungguhnya surat itu dari Sulaiman dan sungguh: ‘Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Janganlah kamu berlaku sombong terhadapku, dan datanglah kepadaku dalam keadaan berserah diri.’”Secara akademik, struktur surat ini memperlihatkan tiga lapisan makna:Pembukaan dengan Basmalah Bukan sekadar pembukaan religius, tetapi deklarasi identitas politik. Basmalah adalah legitimasi bahwa misi Sulaiman bukan agresi politik, melainkan tugas kenabian.Peringatan tentang kesombongan kekuasaan Larangan bersikap sombong menunjukkan kesadaran akan patologi kekuasaan: kekuasaan yang tidak dikontrol dapat melahirkan ilusi superioritas.Ajakan untuk tunduk (aslimū) Mengandung dua makna, yakni tunduk kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan tunduk kepada hukum moral universal yang dibawa para nabi.Surat ini adalah diplomatic ultimatum yang elegan, tegas namun tidak memaksa, keras namun tetap etis.2.2. Diplomasi Burung Hud-hud sebagai “Intelijen Profetik”Uniknya, surat ini disampaikan oleh burung Hud-hud. Dari perspektif akademik, hal ini dapat ditafsirkan sebagai simbol bahwa pengetahuan dapat berasal dari agen yang tak terduga, metafora jaringan intelijen yang luas, dan gambaran pemimpin yang menghargai informasi sebelum membuat kebijakan.BACA: Refleksi Filosofis Qurban: Menjalin Kebersamaan dan Menguatkan KetakwaanSulaiman tidak bertindak tanpa data; ia bertindak setelah verifikasi, sebagaimana perintahnya:“Akan kami lihat apakah engkau benar atau termasuk pendusta.” (QS. an-Naml: 27)Ini menunjukkan model kepemimpinan berbasis evidence-based governance.3. Respons Balqis: Rasionalitas Politik dan Kearifan Kekuasaan3.1. Kepemimpinan yang KolegialKetika menerima surat itu, Balqis tidak emosional. Ia mengundang majelisnya untuk meminta pertimbangan (QS. an-Naml: 32).Ini menunjukkan karakter kepemimpinan demokratis dalam struktur monarki.3.2. Kesadaran tentang Biaya PerangBalqis memahami bahwa perang adalah opsi terakhir:“Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, mereka akan merusaknya…” (QS. an-Naml: 34)Ini adalah bentuk kesadaran geopolitik: konflik akan menimbulkan keruntuhan ekonomi dan moral.3.3. Strategi Diplomasi HadiahBalqis memilih mengirim hadiah sebagai uji niat: apakah Sulaiman mencari keuntungan politik-ekonomi atau benar-benar membawa misi spiritual.Respons Sulaiman yang menolak hadiah tersebut (QS. an-Naml: 36–37) menunjukkan integritas kepemimpinan profetik—ia bukan pemimpin materialistis.4. Transformasi Balqis: Dari Keraguan Menuju Kesadaran TauhidPuncak kisah ini adalah transformasi kesadaran Balqis. Setelah melalui dialog, pengujian, dan keajaiban (seperti pemindahan singgasananya), ia menyatakan:“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku, dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS. an-Naml: 44)Transformasi ini bukan pemaksaan, tetapi hasil dari dialog, demonstrasi keadilan, bukti kekuasaan ilahi, dan kesadaran intelektual.Ini membuktikan bahwa dakwah profetik mengutamakan perubahan kesadaran, bukan kekerasan politik.5. Relevansi Akademik dan Kontemporer5.1. Diplomasi Profetik sebagai Model Resolusi KonflikSurat Sulaiman menawarkan beberapa model, diantaranya dialog sebelum tindakan militer, ajakan moral sebelum penegakan hukum, dan peringatan tegas namun etis.BACA: Tenggelam di Telaga HMI, Menemukan Diri dalam PergerakanModel ini relevan bagi hubungan antarnegara modern.5.2. Kepemimpinan Berbasis HikmahKisah ini mengajarkan prinsip-prinsip kepemimpinan, seperti perlunya verifikasi informasi, distribusi wewenang, penghargaan terhadap pendapat berbeda, kebijakan yang tidak impulsif, dan integritas terhadap godaan kekuasaan dan materi.5.3. Transformasi Sosial melalui SpiritualitasSurat Sulaiman adalah simbol bahwa perubahan besar dapat dimulai dari pesan singkat yang sarat makna. Bahkan kerajaan besar dapat berubah ketika pemimpinnya menemukan kebenaran.Penutup“Surat sakti” Sulaiman kepada Ratu Balqis bukan sakti karena magi, tetapi karena substansi moral dan visinya yang melampaui zaman.Ia memadukan kekuatan teologis, diplomasi, dan kepemimpinan rasional hingga mampu mengubah orientasi sebuah kerajaan besar dari penyembahan tradisional menuju kesadaran tauhid.Dibaca secara akademik, narasi ini bukan hanya cerita spiritual, tetapi juga pelajaran geopolitik, etika kekuasaan, manajemen informasi, dan kepemimpinan transformasional.Sulaiman mengajarkan bahwa kekuasaan sejati bukan terletak pada kemampuan memaksa, tetapi pada kemampuan mengajak menuju kebenaran dengan hikmah, ketegasan, dan integritas. (*)Jangan Lewatkan:Mengurai Tantangan Dakwah di Era Transisi (Refleksi Menyambut 1 Muharram 1446 H)Penyebab Kesombongan, Bahaya dan Cara MengatasinyaTenggelam di Telaga HMI, Menemukan Diri dalam PergerakanMenjaga Amanah di Dunia, Menyelamatkan Catatan di Akhirat