Skip to content
KAHMI Sulsel
MW KAHMI Sulsel

  • Home
  • Tentang
    • Tentang Website
  • Sejarah KAHMI
  • AD/ART KAHMI
  • Struktur Pengurus
  • Opini
  • Hubungi Kami
KAHMI Sulsel
MW KAHMI Sulsel

 

Aksi Massa dan Alarm Kepemimpinan: Membaca Kejanggalan Bernegara

Tim Redaksi Tim Redaksi, 30 August 202530 August 2025

Oleh: Mustari Mustafa*

GELOMBANG aksi sosial yang kini melanda berbagai daerah adalah gejala yang tidak datang tiba-tiba. Ia bukan sekadar ekspresi emosional sesaat, melainkan letupan panjang dari akumulasi kejanggalan dalam praktik bernegara.

Mahasiswa, masyarakat sipil, bahkan elemen rakyat biasa turun ke jalan bukan karena mereka haus keributan, melainkan karena rasa keadilan publik kian terkoyak.

Mari kita cermati. Ada sejumlah kejanggalan nyata yang memperlihatkan bagaimana norma politik dan etika publik begitu telanjang dilanggar.

Pertama, konstitusi diubah sesuai kepentingan elite, tanpa kepekaan terhadap aspirasi rakyat.

Kedua, pemimpin di berbagai lini tampak tidak profesional dalam menjalankan mandatnya.

Ketiga, kasus korupsi dan pidana justru dipermainkan di depan publik, seakan hukum adalah panggung sandiwara.

Keempat, aparat negara dinaikkan gajinya bahkan dianugerahi penghargaan tertinggi negara tanpa alasan substantif.

Kejanggalan berikutnya lebih menyakitkan lagi. Pajak dinaikkan di berbagai sektor hampir bersamaan dengan kenaikan gaji DPR, disertai respons “menari-nari” para anggota dewan yang menambah perih hati rakyat.

Sementara itu, penanganan aksi demonstrasi berjalan serampangan: rakyat yang seharusnya dilindungi justru menjadi korban kekerasan aparat. Dan yang terakhir, para elite politik dan pejabat lebih memilih posisi aman.

BACA:  HMI, Islam, dan Ke-Indonesia-an

Aksi Massa

Alih-alih ikut merasakan denyut keresahan massa, mereka malah menambah emosi publik dengan pernyataan normatif yang jauh dari kenyataan.

Semua ini, menurut saya, adalah akar dari meledaknya aksi sosial sekarang. Rocky Gerung menyebutnya sebagai radical break: sebuah patahan radikal ketika praktik bernegara begitu busuk, hingga negara seolah berdiri di balik tembok raksasa, kebal terhadap norma, konstitusi, dan aturan.

Pada titik ini, rakyat merasa hanya keberanian mereka sendiri yang bisa memulihkan marwah norma dan hukum.

Membaca Krisis dengan Teori Politik

Dari perspektif Max Weber, negara modern seharusnya berlandaskan pada legitimasi legal-rasional, yakni kepatuhan pada aturan hukum yang adil dan konsisten. Namun realitas kita justru sebaliknya.

Konstitusi bisa dipermainkan, hukum tajam ke bawah namun tumpul ke atas, dan kebijakan publik lebih sering melukai rakyat daripada melindungi mereka. Akibatnya, legitimasi legal-rasional itu tergerus, dan negara kehilangan otoritas moral di mata rakyat.

Jika kita pakai kacamata Antonio Gramsci, apa yang terjadi saat ini bisa disebut pergeseran dari hegemoni menuju counter-hegemony.

Negara berusaha mempertahankan hegemoni dengan simbol-simbol, penghargaan, dan narasi keberhasilan. Namun ketika rakyat melihat semua itu sebagai kebusukan, maka aksi jalanan muncul sebagai counter-hegemony—sebuah bentuk koreksi moral terhadap kuasa yang menyimpang.

BACA:  Hujan di November Akhirnya Datang Juga

Bahkan dalam filsafat klasik, Plato pernah mengingatkan bahwa negara tanpa keadilan akan hancur oleh kontradiksinya sendiri.

Apa yang kita saksikan hari ini adalah kontradiksi itu: negara berbicara atas nama hukum, tapi pada saat yang sama hukum dijadikan alat permainan kekuasaan.

Aksi Massa

Pesan untuk Presiden Prabowo

Presiden Prabowo, kondisi ini bukan sekadar gejolak rutin, melainkan alarm serius bagi kepemimpinan saat ini. Rakyat turun ke jalan bukan semata ingin menantang negara, melainkan menuntut negara agar kembali ke rel keadilan dan akal sehat.

Jika alarm ini diabaikan, rakyat akan semakin yakin bahwa negara telah tercerabut dari kontrak sosialnya. Polisi yang kelelahan di lapangan bukan hanya tanda bobolnya barisan keamanan, tetapi juga tanda rapuhnya legitimasi politik. Dan elite yang memilih aman hanya akan mempercepat delegitimasi itu.

Sebaliknya, jika Presiden hadir proaktif—dengan arahan moral yang jelas, sikap persuasif terhadap aparat, dan dialog terbuka dengan mahasiswa serta rakyat—maka sejarah akan mencatat bahwa Presiden Prabowo bukan sekadar penguasa, melainkan negarawan sejati.

BACA:  Bergegaslah (In Memoriam Kanda Agus Ajar Bantung)

Inilah ujian kepemimpinan. Ujian untuk membuktikan bahwa kekuasaan bukanlah pagar besi yang menjauhkan negara dari rakyatnya, melainkan jembatan yang menghubungkan aspirasi rakyat dengan kebijakan yang adil.

Bangsa ini membutuhkan Presiden yang berani hadir bersama rakyat, bukan yang bersembunyi di balik protokol dan pagar istana.

Presiden Prabowo, sejarah sedang mengetuk pintu kepemimpinan nasional yang Anda pimpin. Alarm ini jangan diabaikan, karena sekali terlewat, kepercayaan rakyat yang runtuh tidak mudah dipulihkan kembali. (*)

⸻
Penulis adalah Presidium KAHMI Sulsel, Anggota Komisi Kajian Ketatanegaraan MPR RI, serta Mantan Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Bangkok.

Jangan Lewatkan:

Menyoal Fenomena Klaim Identitas: Katanya Sih Kader HMI

Prasangka Buruk: Perusak Hubungan dan Harmonisasi

Wukuf di Padang Arafah: Introspeksi dan Taubat Menyucikan Hati di Hadapan Allah

Ujub, Penyakit Hati yang Menggerogoti Keikhlasan

Logo Milad KAHMI ke-60

INFORMASI TERBARU

  • Dialog Nasional KAHMI Perjuangan ParepareKAHMI Perjuangan Muncul di Parepare, Gelar Dialog Nasional Bahas Jalan Keluar bagi Indonesia
  • KAHMI Sulawesi Menggugat[EDITORIAL] Sulawesi Menggugat; Ikhtiar KAHMI Menolak Jadi Penonton di Tanah Sendiri
  • Diskusi Publik KAHMI PalopoPeringati Milad ke-60, KAHMI Palopo Gelar Diskusi Publik dan Refleksi Kebangsaan
  • Peresmian Sekretariat KAHMI SulselDiresmikan, Sekretariat Baru KAHMI Sulsel Disiapkan Jadi Rumah Gagasan dan Konsolidasi
  • Fadriati AS, Koordinator Presidium MW KAHMI Sulawesi SelatanKAHMI Sulsel Segera Launching Gedung Graha Hijau Hitam, Warisan untuk Generasi Kader Berikutnya
  • Bendera ParpolOPINI: Partai Politik dan Masa Depan Otonomi Daerah
  • Diskusi Publik LPMD KAHMI SulselGelar Diskusi Publik, KAHMI Sulsel Soroti Peran Strategis Partai Politik dan Masa Depan Otonomi Daerah
  • Raih Gelar Doktor di Unhas, Hidayah Muhallim Teliti Politik Kebencanaan dan Risiko Banjir MakassarRaih Gelar Doktor di Unhas, Hidayah Muhallim Teliti Politik Kebencanaan dan Risiko Banjir Makassar

RSS feed: KABAR FORHATI SULSEL KABAR FORHATI SULSEL

  • FORHATI Selayar Resmi Dilantik, Hadriana Hanafie Dorong Penguatan Ekonomi Perempuan
  • Hadriana Hanafie Dorong KOHATI Rekonstruksi Paradigma Kaderisasi di Era Digital
  • Mantapkan Agenda awal tahun 2026, FORHATI Sulsel Gelar Rapat Presidium
  • FORHATI Sulsel Matangkan Program Desa Piloting di Timbuseng Gowa
  • FORHATI Sulsel Gelar Rapat Presidium, Bahas Sosialisasi Pedoman Dasar Baru dan Pemantapan Program Kerja

RSS feed: OPINI TERBARU OPINI TERBARU

  • OPINI: Partai Politik dan Masa Depan Otonomi Daerah
  • Perempuan: Penentu Demokrasi yang Belum Menentukan
  • Sulaiman dan Surat Saktinya kepada Ratu Balqis
  • Hujan di November Akhirnya Datang Juga
  • Opini Ni’matullah: Menggagas Otonomi Provinsi

KAHMISULSEL.OR.ID

Website ini dikelola oleh Lembaga Penerbitan dan Media Digital (LPMD) MW KAHMI SULSEL
Kantor Redaksi: Jl. Bougenville No.A38, Masale, Kec. Panakkukang Kota Makassar – Sulawesi Selatan
E-mail : redaksikahmisulsel@gmail.com
Telp/WA: 0811-4455-212 (Abudhar)

DISCLAIMER
Diperbolehkan mengutip sebagian atau keseluruhan isi pemberitaan di website ini dengan menyertakan kredit ke LPMD MW KAHMI Sulsel.
©2026 MW KAHMI Sulsel