Hujan di November Akhirnya Datang Juga Tim Redaksi, 13 November 2025 Oleh: Wawan MattaliuNOVEMBER akhirnya datang bersama hujan. Langit kerap gelap dan tanah-tanah basah. Sebuah pesan bagi pemotor untuk selalu menyiapkan mantel. Dan yang bermobil segera mengecek wiper.Dan untuk kita semua, marilah menyiapkan diri untuk terenyuh dan terharu. Kenapa?Karena tak lama lagi orang-orang yang telah kita pilih akan datang bermantel di tengah hujan deras. Beberapa menembusi genangan selutut. Yang lebih dramatis akan mengangkat beras dan rak-rak telur. Mie instan juga.Tubuhnya dibiarkan kuyup. Sambil memeluk beberapa warga yang renta. Beberapa orang tukang foto akan menangkap angel yang paling ikonik.Dan mungkin di bawah gerimis yang tersisa, orang-orang itu akan bicara di depan kamera media, “ini cuaca ekstrem. Sangat sulit untuk menghindari banjir. Kami sudah menyiapkan yttik-titik evakuasi. Kita harus wajib membantu saudara-saudara kita yang terdampak.”BACA: Menjaga Amanah di Dunia, Menyelamatkan Catatan di AkhiratBanjir tak jauh beda dengan lebaran. Semua tahu kapan akan datang. Persiapannya saja yang agak terpisah.Lebaran membuat kita punya baju baru, ketupat dan opor. Sementara banjir memaksa kita lebih kreatif. Memberi ganjalan setinggi mungkin untuk sofa dan kasur. Lemari dari serbuk kayu naik ke loteng. Juga tivi dan kulkas. Tapi tak semua selamat.Tapi sekali lagi, kita akan terenyuh dan terharu atas begitu pedulinya mereka yang telah kita pilih. Empatinya akan muncul di setiap scroll. Wajahnya memelas. Dan beberapa orang akan membuat caption; terimakasih atas empatinya. Anda sungguh pemimpin sejati.BACA: Waktu: Anugerah Yang Tak Tergantikan Menurut IslamKeharuan telah menutup kesempatan kita memeriksa, apakah ada angka mitigasi yang layak di dalam apbd? Apakah ada program yang bersungguh-sungguh dirumuskan untuk memenej limpahan hujan yang berlebih?Ataukah pernyataan Songke’ benar adanya bahwa bencana bagi sebahagian orang adalah panggung bagi para politisi?November akhirnya datang juga. Bersama hujan dan kecemasan.Padahal sungguh, rasa terenyuh dan haru itu sudah lebih dari cukup akibat film India dan drama Korea. Tak perlu ada tambahan haru dari spring bed yang basah dan sofa yang terkulai.Tak perlu ada drama mereka yang berhujan dengan baju safari, sambil sesekali menggigil di depan kamera. Lalu pulang menghapus penat dan merebahkan diri di atas kasur yang senilai 3 unit NMAX Neo S.BACA: Renaisans: Eropa Harus Berterima Kasih pada Islam karena Terbebas dari KegelapanKami memilih bukan untuk menonton drama yang melampaui film India dan drama Korea! Kami sudah mulai lelah menangis. Sungguh! (*)Jangan Lewatkan:Wukuf di Padang Arafah: Introspeksi dan Taubat Menyucikan Hati di Hadapan AllahDengki, Penyakit Hati yang Menghancurkan Kebaikan dan KeharmonisanAksi Massa dan Alarm Kepemimpinan: Membaca Kejanggalan BernegaraFraming Media, Struktur Politik, dan Ancaman Anarkhi di Indonesia