Wisma HMI Botolempangan: Jejak Sejarah Perjuangan Kader HMI Makassar Tim Redaksi, 5 Agustus 20255 Agustus 2025 KAHMISULSEL.OR ID – Di balik tembok tua di Jalan Botolempangan No. 51 Makassar, berdiri sebuah bangunan yang menyimpan banyak cerita perjuangan kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Wisma HMI Botolempangan, begitu kini dikenal, bukan sekadar sekretariat atau tempat berkumpul, tetapi simbol sejarah panjang dinamika kaderisasi, konsolidasi, bahkan percintaan para aktivis HMI di Kota Daeng. Salah satu saksi sejarah sekaligus pelaku langsung dalam pendudukan awal gedung ini adalah Rapiuddin Hamarung, tokoh HMI yang pernah menjabat Ketua HMI Cabang Makassar era 1960-an. Dalam sebuah catatan reflektifnya, ia mengenang bagaimana gedung itu akhirnya menjadi milik HMI hingga kini. “Suatu malam, kami sedang duduk di emperan rumah Pak Jusuf Kalla di Jalan Andalas, tiba-tiba ada kabar bahwa ada rumah kosong di Jalan Botolempangan 51. Saya langsung tugaskan Tajang Badawi untuk mengecek. Setelah dipastikan kosong, kami langsung bergerak dan menempatinya malam itu juga,” kenangnya. Tak lama berselang, sebuah organisasi Islam lain juga berminat mengambil alih gedung tersebut. Namun, karena lebih dulu diduduki oleh kader HMI, mereka akhirnya mengurungkan niat. Sejak saat itu, rumah di Jalan Botolempangan itu menjadi markas perjuangan HMI Makassar. Untuk memastikan legalitas penggunaan gedung, Rapiuddin bersama Jusuf Kalla menghadap Wali Kota Makassar saat itu, H. Andi Patompo. Mereka berhasil memperoleh surat penunjukan atas rumah tersebut sebagai Sekretariat HMI Cabang Makassar, dengan nama mereka tercantum dalam dokumen. Namun menariknya, surat itu kemudian dirobek oleh Jusuf Kalla. Alasannya sederhana namun bijak: agar tidak ada satu pun keturunan mereka di kemudian hari yang mengklaim hak atas rumah tersebut. Strategi pengamanan gedung pun tidak main-main. Setiap malam, para kader HMI melakukan kegiatan dan tabuhan tambur hingga larut malam, menciptakan suasana yang “hidup” dan memastikan gedung tidak dikuasai pihak lain. Bahkan tetangga di blok sebelah akhirnya memilih pindah karena merasa terganggu, dan blok tersebut pun turut dikuasai oleh HMI. Sejak saat itu, dua rumah di blok Botolempangan menjadi milik HMI Cabang Makassar hingga hari ini. Lebih dari sekadar tempat berkumpul, Wisma Botolempangan menjadi pusat kaderisasi. Di masa kepemimpinan Rapiuddin, hampir tiap dua pekan diadakan basic training (latihan kader), sementara pengurus komisariat dibentuk di seluruh fakultas dan perguruan tinggi di Makassar. Wisma ini juga menjadi tempat tumbuhnya inisiatif-inisiatif penting, seperti pendirian Radio HMI, SMA HMI, dan Korps HMI-Wati (Kohati), serta lahirnya tokoh-tokoh yang kemudian berkiprah di berbagai bidang kenegaraan, termasuk Jusuf Kalla sendiri. Tidak berlebihan jika dikatakan, Wisma HMI Botolempangan adalah saksi hidup sejarah HMI di Sulawesi Selatan. Sebuah rumah yang lahir dari keberanian menempati, semangat menjaga, dan keikhlasan memberi. Warisan ini bukan hanya soal gedung fisik, tetapi semangat kolektif dan idealisme perjuangan yang diwariskan dari satu generasi kader ke generasi berikutnya. Kini, di tengah tantangan dan dinamika organisasi modern, harapan dari para pendahulu seperti Rapiuddin Hamarung masih sama: agar kader HMI bersatu, tidak saling menggugat, dan kembali menjadikan konsolidasi sebagai kekuatan utama. Sebab hanya dengan itulah, Wisma HMI Botolempangan akan terus berdiri kokoh, tak hanya secara fisik, tetapi juga secara ideologis dan historis. “Yakin Usaha Sampai” bukan hanya motto, tapi napas dari setiap batu bata yang membangun Wisma HMI Botolempangan. – Rapiuddin Hamarung Jangan Lewatkan:Mekanisme dan Tata Cara Membentuk Majelis Rayon (MR) KAHMITerungkap! Produk Mengandung Babi Bersertifikat Halal, Ini Imbauan untuk Umat MuslimKAHMI Sulsel dan Makassar Kolaborasi, Bakal Peringati Bersama Puncak Milad KAHMI ke-58Ni'matullah: KAHMI Independen, Tidak Ada Kubu-Kubuan di Pilkada!