Renaisans: Eropa Harus Berterima Kasih pada Islam karena Terbebas dari Kegelapan Tim Redaksi, 27 Agustus 2025 Oleh: Moh. Abudhar Hudyatul Islam RENAISANS sering disebut sebagai zaman “terbitnya matahari” di Eropa, setelah melewati periode gelap dimana ilmu pengetahuan dibatasi oleh Gereja dan masyarakat diperbudak oleh sistem feodalisme (raja, bangsawan, tuan tanah, dan petani). Periode ini dikenal sebagai Zaman Kegelapan Eropa (Dark Ages). Perang Salib pada abad ke-10 hingga ke-13 M, yang awalnya bertujuan merebut kota Yerusalem dari kekuasaan Islam, justru menjadi “lilin” bagi Eropa. Melalui kontak dengan dunia Islam seperti Syam, Mesir, dan Andalusia. bangsa Eropa tercengang oleh kemajuan ilmu pengetahuan Dunia Islam, mulai dari rumah sakit, filsafat, seni, universitas, aljabar, astronomi, hingga kedokteran. Andalusia, yang saat itu merupakan wilayah Islam, menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia. Selain itu, Universitas Al-Qarawiyyin di Maroko, yang merupakan universitas pertama di dunia, dan karya-karya para ilmuwan Islam seperti Ibnu Sina, Al-Biruni, dan Ibn Rushd diterjemahkan dan menjadi dasar berdirinya universitas-universitas di Eropa, seperti Oxford, Bologna, dan Paris. BACA: Penyebab Kesombongan, Bahaya dan Cara MengatasinyaPeriode Perang Salib (1096–1300-an) memang awalnya berhasil merebut Yerusalem, namun akhirnya mengalami kegagalan. Ironisnya, “oleh-oleh” dari dunia Islam berupa ilmu pengetahuan justru memicu lahirnya Renaisans di Eropa, sebuah revolusi kebebasan berpikir dipenjuru eropa. Sayangnya, dominasi Gereja membuat Eropa saat itu hanya mengadopsi ilmu-ilmu tertentu, seperti matematika, seni, kedokteran, astronomi, dan teknologi. Penemuan mesin cetak kemudian mempercepat penyebaran ilmu pengetahuan di Eropa, yang pada akhirnya menjadi salah satu faktor utama lahirnya Revolusi Industri di berbagai penjuru Eropa. BACA: Silaturahmi Regional KAHMI, Momentum Kebangkitan dan KolaborasiSelain itu, pengaruh feodalisme yang mengakar kuat di Eropa dan ajaran Islam tentang tauhid dan humanisme yang sebagian besar bertentangan dengan kepentingan raja, bangsawan, dan Gereja saat itu membuat Eropa enggan mengadopsi nilai-nilai moral dan sosial Islam. Akibatnya, perbudakan dan penjajahan tetap menjadi budaya mereka. Bangsa lain dianggap bukan manusia sepenuhnya, sehingga legal diperbudak, dijajah, atau bahkan dibunuh. Portugis dan Spanyol pun berlomba mengarungi samudra untuk menaklukkan wilayah Amerika, Afrika dan Asia dengan membawa semangat “Gold, Glory, and God.” Kemajuan ilmu pengetahuan di Eropa melahirkan kekuatan untuk mendominasi dunia. Revolusi Industri serta Perang Dunia I dan II menjadi bukti bagaimana ilmu pengetahuan, yang lahir dari kebebasan berpikir, mampu menciptakan teknologi untuk industri dan transportasi, serta memperkuat persenjataan melalui inovasi terbaru hasil penelitian. BACA: Munas KAHMI XI di Kota Palu: Momentum Kader dan Alumni HMI Menjadi Pelopor Pemimpin Berkarakter Membangun NegeriKondisi ini membuat negara-negara seperti Uni Soviet, Inggris, Jerman, Prancis, Belanda, dan Italia lebih mudah menaklukkan bangsa lain menyusul keberhasilan Portugis dan Spayol yang lebih dahulu. (*) Maros, 27 Agustus 2025 Jangan Lewatkan:Waktu: Anugerah Yang Tak Tergantikan Menurut IslamMengurai Tantangan Dakwah di Era Transisi (Refleksi Menyambut 1 Muharram 1446 H)Menjaga Amanah di Dunia, Menyelamatkan Catatan di AkhiratMakna Filosofis dan Spiritual Ibadah Kurban: Integrasi Antara Ketaatan Ritual dan Etika Sosial