Krisis Energi Global dan Titik Balik Peradaban Tim Redaksi, 15 Maret 202615 Maret 2026 Oleh: Syahid Arsjad (Pengurus MW KAHMI Sulsel) PERANG antara Amerika Serikat dan Iran belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Ketegangan di kawasan Timur Tengah semakin meningkat setelah Iran menutup Selat Hormuz. Ini tentu bukan perkara kecil. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia, tempat sekitar 20 persen perdagangan minyak global melintas setiap harinya. Jika jalur ini benar-benar ditutup, stabilitas pasokan energi dunia akan terganggu dan harga minyak global hampir pasti melonjak tajam. Jika mencermati dinamika konflik di berbagai kawasan penghasil energi, langkah-langkah agresif negara-negara besar sering kali tidak dapat dilepaskan dari kepentingan mengamankan sumber energi. Kebijakan Amerika Serikat terhadap negara-negara penghasil minyak seperti Iran maupun Venezuela kerap dipandang memiliki keterkaitan erat dengan kepentingan geopolitik energi. Minyak bumi hingga kini masih menjadi komoditas strategis yang menentukan stabilitas ekonomi global. Data energi global menunjukkan betapa kuatnya ketergantungan dunia terhadap energi fosil. Hingga saat ini, lebih dari 80 persen konsumsi energi dunia masih berasal dari minyak, batu bara, dan gas. Pada saat yang sama, permintaan energi global terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi, populasi, dan perkembangan teknologi yang semakin intensif menggunakan energi. Badan Energi Internasional mencatat bahwa permintaan energi global masih terus meningkat setiap tahun, mencerminkan bahwa sistem ekonomi dunia belum mampu melepaskan diri dari ketergantungan terhadap energi fosil. Dalam konteks ini, penguasaan energi menjadi salah satu syarat penting bagi kemajuan suatu negara. Energi merupakan fondasi bagi aktivitas industri, transportasi, dan teknologi modern. Negara yang memiliki akses energi yang melimpah akan lebih mudah mendorong pertumbuhan ekonominya. BACA: Wisma HMI Botolempangan: Jejak Sejarah Perjuangan Kader HMI MakassarPerkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin merata di berbagai belahan dunia membuat kesenjangan antara negara maju dan negara berkembang semakin menyempit. Dalam situasi seperti ini, penguasaan energi menjadi salah satu instrumen penting untuk mempertahankan superioritas global. Tidak mengherankan apabila negara-negara maju sering menunjukkan sikap hati-hati terhadap pengembangan teknologi energi strategis di negara berkembang. Energi nuklir, misalnya, merupakan salah satu sumber energi yang mampu menghasilkan listrik dalam jumlah besar dengan biaya relatif murah dalam jangka panjang. Jika negara-negara berkembang mampu menguasai teknologi ini secara luas, maka kesenjangan ekonomi global berpotensi semakin mengecil. Dalam perspektif geopolitik, kondisi tersebut tidak diinginkan oleh negara maju yang ingin mempertahankan dominasinya. Upaya pengembangan energi baru dan terbarukan memang terus dilakukan oleh para ilmuwan di berbagai negara. Namun hingga saat ini kontribusi energi terbarukan terhadap kebutuhan energi dunia masih relatif terbatas dibandingkan dominasi energi fosil. Dalam situasi seperti ini, setiap negara berusaha merancang strategi untuk mengamankan cadangan energinya di masa depan. Negara-negara maju memperkuat cadangan strategis energi mereka, mempercepat transisi energi, serta melakukan diversifikasi sumber energi. Indonesia sendiri tampaknya belum memiliki persiapan yang cukup matang untuk menghadapi kemungkinan krisis energi global tersebut. Sebagai negara yang kini telah menjadi importir minyak, Indonesia bahkan belum memiliki kapasitas penyimpanan energi yang memadai untuk menjamin ketahanan pasokan dalam jangka panjang. Konsumsi minyak nasional saat ini berada di kisaran 1,6 juta barel per hari, sementara produksi minyak domestik hanya sekitar 600 ribu barel per hari, sehingga sisanya harus dipenuhi melalui impor. BACA: Mekanisme dan Tata Cara Membentuk Majelis Rayon (MR) KAHMIDi sisi lain, Indonesia masih mengekspor sebagian sumber daya energinya dalam bentuk bahan mentah. Batu bara, misalnya, sebagian besar justru diekspor ke pasar internasional. Indonesia bahkan merupakan salah satu eksportir batu bara terbesar di dunia dengan produksi lebih dari 700 juta ton per tahun, namun sebagian besar produksi tersebut tidak digunakan untuk memperkuat cadangan energi domestik. Padahal sumber energi tersebut seharusnya dapat menjadi cadangan strategis untuk memenuhi kebutuhan energi nasional di masa depan. Jika eksploitasi terus berlangsung tanpa perencanaan jangka panjang, bukan tidak mungkin cadangan energi tersebut akan semakin menipis dalam beberapa dekade mendatang. Upaya pengembangan energi terbarukan sebenarnya telah masuk dalam berbagai kebijakan pemerintah. Namun kontribusinya terhadap bauran energi nasional masih relatif kecil dibandingkan potensi yang dimiliki Indonesia. Saat ini porsi energi terbarukan dalam bauran energi nasional baru berada pada kisaran 13–14 persen, jauh dari target 23 persen pada tahun 2025. Padahal Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar, mulai dari panas bumi sekitar 23 gigawatt—terbesar kedua di dunia—serta potensi energi surya yang diperkirakan mencapai lebih dari 200 gigawatt. Selain itu, potensi energi hidro dan biomassa juga cukup besar untuk mendukung transisi energi nasional. Demikian pula dengan pengembangan energi nuklir yang pernah digagas sejak era Presiden Soekarno. Hingga kini isu tersebut hampir tidak lagi menjadi bagian dari perdebatan strategis dalam perencanaan energi nasional. Mungkin seperti itulah kebiasaan kita sebagai bangsa: sering kali tidak terlalu khawatir terhadap krisis yang sudah terlihat di depan mata, sampai akhirnya kita benar-benar merasakan dampaknya. BACA: Kedudukan dan Fungsi Majelis Rayon KAHMI Menurut AD/ART Terbaru Hasil Munas XI PaluKonflik akibat perebutan energi kemungkinan besar akan terus berlanjut. Bahkan dalam beberapa dekade ke depan eskalasinya diperkirakan akan semakin meningkat. Sesungguhnya, kekhawatiran tentang krisis energi bukanlah hal baru. Jauh sebelumnya, pemikir sistem Fritjof Capra dalam bukunya The Turning Point telah mengingatkan bahwa dunia sedang memasuki sebuah fase yang ia sebut sebagai titik balik peradaban. Capra melihat bahwa berbagai krisis modern—krisis energi, kerusakan lingkungan, instabilitas ekonomi, hingga konflik geopolitik—sebenarnya merupakan gejala dari satu krisis besar dalam peradaban manusia. Menurut Capra, peradaban modern dibangun di atas paradigma mekanistik yang memandang alam sebagai mesin besar yang dapat dieksploitasi tanpa batas. Paradigma ini memang melahirkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang luar biasa, tetapi sekaligus menciptakan ketergantungan besar terhadap sumber daya alam yang terbatas, terutama energi fosil. Ketergantungan inilah yang kemudian memunculkan berbagai krisis global yang saling berkaitan. Krisis energi global, dampaknya tidak hanya akan mempengaruhi stabilitas ekonomi, tetapi juga arah masa depan peradaban manusia. Dalam pengertian itulah, krisis energi yang sedang kita hadapi hari ini dapat menjadi bagian dari apa yang disebut Capra sebagai titik balik peradaban. (*) Jangan Lewatkan:Mekanisme dan Tata Cara Membentuk Majelis Rayon (MR) KAHMIMasa Depan Gerakan Keummatan di Indonesia di Era Presiden Prabowo SubiantoSabtu Besok, KAHMI Sulsel Gelar FGD, Bahas Banjir dan Tanah Longsor di SulselTerungkap! Produk Mengandung Babi Bersertifikat Halal, Ini Imbauan untuk Umat Muslim