Skip to content
KAHMI Sulsel
MW KAHMI Sulsel

  • Home
  • Tentang
    • Tentang Website
  • Sejarah KAHMI
  • AD/ART KAHMI
  • Struktur Pengurus
  • Opini
  • Hubungi Kami
KAHMI Sulsel
MW KAHMI Sulsel

 

Bayangkan Muka Walid; Kultus Personal dan Manipulasi Ritual

Tim Redaksi Tim Redaksi, 21 April 202521 April 2025

Oleh: Barsihannor
(Profesor di bidang Filsafat dan Pemikiran Islam UIN Alauddin Makassar/Ketua Biro Keagamaan dan Pembinaan Ummat MW KAHMI Sulsel)

Kapan konten tik-tok menjadi viral? Jika konten itu diserbu oleh komentar nitizen, baik yang pro maupun kontra. Jadi jika ingin viral jangan takut dengan komentar nitizen.

Serial Bidaah juga saat ini menjadi trending topik, dan viral menembus jutaan viewer. Serial ini bukan sekadar drama religi biasa, tapi cerita tentang bagaimana agama dijadikan komoditas untuk mengambil keuntungan tertentu.

Film serial ini menyuguhkan kritik tajam terhadap fenomena keberagamaan yang sering kali jatuh pada jebakan simbol dan kultus personal. Disutradarai Pali Yahya dan ditulis oleh Eirma Fatima, Bidaah menjadi cermin satir terhadap bagaimana agama bisa diselewengkan oleh figur-figur kharismatik yang memanfaatkan kehausan spiritual masyarakat untuk mengukuhkan kuasa.

Tokoh Walid Muhammad Mahdi Ilman, pemimpin Jihad Ummah yang mengklaim diri sebagai Imam Mahdi, tampil bukan hanya sebagai antagonis, tetapi sebagai simbol bagaimana kultus individu dapat menghipnotis nalar umat.

BACA:  Menjaga Amanah di Dunia, Menyelamatkan Catatan di Akhirat

Kalimatnya yang viral, “Pejamkan mata, bayangkan muka Walid,” menjadi parodi sekaligus kritik: betapa agama bisa dikaburkan oleh personifikasi kekuasaan, di mana wajah pemimpin lebih penting daripada ajaran.

Fenomena ini tidak asing di tengah masyarakat kita. Tak jarang umat lebih tunduk pada simbol—baik itu jubah, gelar, atau sosok tertentu—daripada substansi ajaran agama itu sendiri.

Kepatuhan menjadi absolut bukan karena kebenaran, tapi karena pesona. Ritual menjadi tujuan, bukan jalan. Padahal, spiritualitas sejatinya mengajak berpikir, bukan sekadar ikut.

Suatu hari sebelum ada media sosial, saya ceramah di sebuah desa yang hanya mengenal nama saya, belum pernah melihat wajah saya. Saya menggandeng Qari yang akan mengaji dalam agenda maulid di desa tersebut. Saya pakai helm sementara Qari yang notabene mahasiswa saya memakai peci hitam, sorban dan jas.

BACA:  Mengurai Tantangan Dakwah di Era Transisi (Refleksi Menyambut 1 Muharram 1446 H)

Sesampai di desa tersebut, jemaah mesjid yang menunggu semua berdiri menyambut kedatangan ust. Tapi bukan saya yang disambut, tapi mahasiswa yang memakai atribut simbol keagamaan, dia kawal masuk mesjid sementara saya harus menepi memakir sepeda motor… hehehe.

Kembali ke Bidaah. Kisah Hambali, yang pulang dari Yaman dan menyadari penyimpangan ajaran Walid, memperlihatkan pentingnya pendidikan agama yang kritis. Ia dan Baiduri menjadi representasi penting bahwa melawan penyimpangan bukan sekadar soal keberanian, tetapi soal pemahaman.

Ini relevan dengan realitas hari ini, di mana banyak praktik menyimpang diselimuti justifikasi keagamaan—dari poligami eksploitatif, kekerasan berbasis tafsir, hingga sekte-sekte eksklusif yang menutup pintu diskusi.

Yang membuat Bidaah lebih menarik, mungkin justru respons netizen. Meme dan parodi yang menjamur menunjukkan dua hal: pertama, bahwa masyarakat sebenarnya punya sensitivitas terhadap kebodohan kolektif yang dibalut agama; dan kedua, ada peluang edukasi di balik viralitas.

BACA:  Hujan di November Akhirnya Datang Juga

Ketika “Pejamkan mata, bayangkan muka Walid” menjadi bahan lelucon, ia sekaligus menyadarkan bahwa simbol tidak layak disakralkan tanpa akal.

Bidaah adalah refleksi—tentang bagaimana iman bisa jadi alat kuasa, bagaimana simbol bisa membutakan, dan bagaimana masyarakat perlu lebih beragama secara rasional daripada emosional.

Serial ini mengajak kita bukan sekadar menonton, tapi merenung: selama ini, kita menyembah Tuhan, atau menyembah representasi Tuhan?

Sungguminasa, 21 April 2025.

Jangan Lewatkan:

Waktu: Anugerah Yang Tak Tergantikan Menurut Islam

Menjaga Amanah di Dunia, Menyelamatkan Catatan di Akhirat

HMI, Islam, dan Ke-Indonesia-an

Ujub, Penyakit Hati yang Menggerogoti Keikhlasan

INFORMASI TERBARU

  • Ir Fadriati AS, MM, Koordinator Presidium MW KAHMI Sulsel
    Berita

    8 Maret 2026, KAHMI Sulsel Gelar Bukber dan Peringati Milad ke-79 HMI di Makassar

  • Ilustrasi orang beribadah
    Oase

    Jangan Berhenti pada Ritual, Raihlah Kesadaran Ilahiah

  • KAHMI Palopo Gelar Diskusi Publik, Bedah Masa Depan Provinsi Luwu Raya
    Berita

    Diskusi Publik KAHMI Palopo Dorong Strategi Data dan Lobi Politik untuk Pemekaran Luwu Raya

  • Erwin S Wijaya di Musda KAHMI Luwu Utara
    Daerah

    Erwin S Wijaya Diaklamasi Pimpin KAHMI Luwu Utara Periode 2026–2030

  • Ni'matullah di Silatreg KAHMI se-Sulawesi, 10 Oktober 2025 lalu.
    Oase

    Ni’Matullah, KAHMI dan Politik Desentralisasi Indonesia

ARTIKEL POPULER

  • Rumaisha Hasan
    BeritaForhati

    Breaking News: dr Rumaisha Hasan Pimpin Presidium FORHATI Sulsel Periode 2022-2027

  • Artikel

    KAHMI Sulsel dan Makassar Kolaborasi, Bakal Peringati Bersama Puncak Milad KAHMI ke-58

  • Calon Presidium Forhati Sulsel 2022-2027
    BeritaForhati

    Inilah 6 Kandidat Jelang Pemilihan Presidium FORHATI Sulsel

  • Suasana MUSDA MD KAHMI Luwu Timur
    BeritaDaerahKahmisiana

    Terpilih Aklamasi, Ramadhan Pirade Pimpin MD KAHMI Luwu Timur

  • Mubyl Handaling
    BeritaNasional

    Kabar Duka! Mantan Ketua KAHMI Sulsel Mubyl Handaling Tutup Usia

RSS KABAR FORHATI SULSEL

  • Mantapkan Agenda awal tahun 2026, FORHATI Sulsel Gelar Rapat Presidium
  • FORHATI Sulsel Matangkan Program Desa Piloting di Timbuseng Gowa
  • FORHATI Sulsel Gelar Rapat Presidium, Bahas Sosialisasi Pedoman Dasar Baru dan Pemantapan Program Kerja
  • Suryanarni Sultan Ditetapkan Sebagai Koordinator MW FORHATI Sulsel Tahun Ketiga Periode 2022–2027
  • Eratkan Silaturahmi, Pengurus FORHATI Sulsel Hadiri Buka Puasa KAHMI dan Forhati Makassar

RSS OPINI TERBARU

  • Sulaiman dan Surat Saktinya kepada Ratu Balqis
  • Hujan di November Akhirnya Datang Juga
  • Opini Ni’matullah: Menggagas Otonomi Provinsi
  • HMI, Islam, dan Ke-Indonesia-an
  • Tenggelam di Telaga HMI, Menemukan Diri dalam Pergerakan

KAHMISULSEL.OR.ID

Website ini dikelola oleh Lembaga Penerbitan dan Media Digital (LPMD) MW KAHMI SULSEL
Kantor Redaksi: Jln. Toddopuli VII/26, Borong, Kec. Manggala Kota Makassar – Sulawesi Selatan
E-mail : redaksikahmisulsel@gmail.com
Telp/WA: 0811-4455-212 (Abudhar)

DISCLAIMER
Diperbolehkan mengutip sebagian atau keseluruhan isi pemberitaan di website ini dengan menyertakan kredit ke LPMD MW KAHMI Sulsel.
©2026 MW KAHMI Sulsel