Mengenal Fadriaty, Srikandi yang Kini Nakhodai KAHMI Sulawesi Selatan Tim Redaksi, 15 Juli 202615 Juli 2026 KAHMISULSEL.OR.ID – Setiap organisasi besar membutuhkan pemimpin yang bukan hanya mampu mengelola dinamika internal, tetapi juga sanggup menjaga nilai-nilai yang menjadi fondasi perjuangannya. Di lingkungan Majelis Wilayah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MW KAHMI) Sulawesi Selatan, amanah itu kini berada di tangan Ir. Fadriaty A.S., M.M., sosok yang telah lama dikenal sebagai kader HMI, legislator senior, sekaligus pemimpin perempuan yang konsisten menjadikan pengabdian sebagai orientasi utama dalam setiap langkahnya. Sekitar sepekan sebelum Ramadhan 1447H, pada 12 Februari 2026, Fadriaty resmi ditetapkan sebagai Koordinator Presidium MW KAHMI Sulawesi Selatan, menggantikan Ni’matullah. Penetapan tersebut bukan sekadar pergantian kepemimpinan organisasi, tetapi juga menjadi penanda lahirnya babak baru bagi KAHMI Sulawesi Selatan dalam memperkuat konsolidasi alumni, memperluas ruang kolaborasi, serta meningkatkan kontribusi nyata terhadap pembangunan daerah dan bangsa. Kepercayaan yang diberikan kepadanya bukan hadir dalam ruang kosong. Jabatan itu merupakan akumulasi dari perjalanan panjang yang ditempa melalui proses kaderisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), pengalaman memimpin organisasi, serta kiprah sebagai anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan yang selama bertahun-tahun mengawal aspirasi masyarakat Luwu Raya. BACA: Mozaik Insan Cita: Manifesto KAHMI Sulawesi Selatan untuk Indonesia Lahir di Palopo, 25 Maret 1973, Fadriaty tumbuh sebagai pribadi yang meyakini bahwa kepemimpinan bukanlah tentang kedudukan, melainkan tentang kesediaan memikul amanah. Pendidikan yang ditempuhnya hingga meraih gelar Insinyur dan Magister Manajemen membentuk cara berpikir yang sistematis, sementara pengalaman organisasi mengasah kepekaan sosial dan kemampuan membangun komunikasi dengan berbagai kalangan. Namun, sekolah kepemimpinan yang paling membentuk karakter Fadriaty adalah Himpunan Mahasiswa Islam. Dari organisasi inilah ia belajar bahwa ilmu harus diabdikan kepada masyarakat, bahwa perbedaan adalah kekuatan yang harus dikelola, dan bahwa seorang pemimpin dituntut hadir sebagai pemberi solusi, bukan sekadar pengambil keputusan. Nilai-nilai itulah yang kemudian menjadi benang merah dalam seluruh perjalanan hidupnya. Baik ketika aktif di organisasi, memasuki dunia politik melalui Partai Demokrat, menjalankan amanah sebagai anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan, hingga kini memimpin MW KAHMI Sulawesi Selatan. Sebagai Koordinator Presidium, Fadriaty memandang KAHMI bukan semata organisasi yang menghimpun para alumni HMI. Lebih dari itu, KAHMI adalah ruang pengabdian yang mempertemukan pengalaman, keilmuan, dan jejaring para alumni untuk memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat. BACA: 8 Maret 2026, KAHMI Sulsel Gelar Bukber dan Peringati Milad ke-79 HMI di MakassarBaginya, alumni HMI memiliki tanggung jawab moral untuk terus hadir di tengah persoalan bangsa melalui gagasan, keteladanan, dan kerja nyata. Pandangan tersebut menjadi landasan kepemimpinannya dalam mengonsolidasikan potensi alumni HMI di Sulawesi Selatan. Ia mendorong KAHMI agar semakin adaptif terhadap perkembangan zaman, tanpa kehilangan identitasnya sebagai organisasi yang lahir dari tradisi intelektual, keislaman, dan keindonesiaan. Penguatan kaderisasi alumni, peningkatan kualitas sumber daya manusia, kolaborasi lintas profesi, serta kontribusi terhadap pembangunan daerah menjadi agenda yang terus didorong dalam kepemimpinannya. Di sisi lain, pengalaman panjang sebagai legislator memberikan perspektif yang semakin memperkaya kepemimpinannya. Selama beberapa periode mewakili Luwu Raya di DPRD Provinsi Sulawesi Selatan, Fadriaty dikenal aktif memperjuangkan pembangunan infrastruktur, penguatan sektor pertanian, pemberdayaan perempuan, ketahanan pangan, serta mendorong pembentukan Daerah Otonomi Baru Luwu Tengah dan Provinsi Luwu Raya. Pengalaman bersentuhan langsung dengan masyarakat membuatnya memahami bahwa setiap kebijakan hanya akan bermakna apabila mampu menjawab kebutuhan riil warga. Kedekatan dengan masyarakat juga menjadi ciri khas gaya kepemimpinannya. Dalam berbagai agenda reses, Fadriaty memilih membuka ruang dialog seluas-luasnya. Ia percaya bahwa seorang pemimpin harus lebih banyak mendengar daripada berbicara. BACA: Mozaik Insan Cita: Manifesto KAHMI Sulawesi Selatan untuk IndonesiaDari ruang-ruang pertemuan sederhana di desa-desa hingga forum-forum organisasi, ia berusaha menjadikan setiap aspirasi sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan. Di luar aktivitas politik dan organisasi, Fadriaty juga aktif sebagai Ketua Dewan Penasehat FORHATI Kabupaten Luwu. Baginya, pemberdayaan perempuan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan masyarakat. Ia percaya bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam melahirkan kepemimpinan yang inklusif, berkeadilan, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama. Kini, sebagai nahkoda MW KAHMI Sulawesi Selatan, Fadriaty Asmaun mengemban amanah yang lebih luas daripada sekadar memimpin sebuah organisasi alumni. Ia memikul tanggung jawab untuk menjaga kesinambungan nilai-nilai HMI, memperkuat soliditas KAHMI, sekaligus memastikan organisasi tetap relevan dalam menjawab tantangan zaman. Perjalanan hidupnya menunjukkan bahwa kaderisasi bukanlah fase yang berakhir ketika seseorang menyelesaikan masa kemahasiswaannya. Kaderisasi adalah proses yang terus hidup dalam setiap amanah, keputusan, dan pengabdian yang dijalankan sepanjang hayat. Dari situlah Fadriaty memaknai kepemimpinan—bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai jalan untuk menghadirkan manfaat yang berkelanjutan bagi umat, daerah, dan bangsa. (*)